Romantisme Masa Kolonial Menjadikan Cinta kepada Kota Mungil Ini

Untuk menambahkan daftar tujuan wisatanya, Indonesia punya suatu kota pertambangan yang mengandung histori Hindia-Belanda yang tidak pendek. Jadi, gak hanya negara bagian California, Amerika Serikat aja yang mempunyai mining town. Kota itu ialah Sawahlunto, berada di Sumatera Barat, diapit Bukit Barisan, yang bakal membawa kamu menelusuri waktu balik lagi ke jaman kolonial.

Pertama kali menginjakkan kaki di kota mungil jelita ini, barangkali sesaat kamu pasti lupa bila masih ada di Indonesia. Umumnya, gedung-gedung dengan gaya Belanda klasik tetap berdiri kokoh, indah serta terawat, seolah-olah seperti baru di bangun. Citarasa Belanda tetap terasa amat kental, tampak dari arsitektur bangunan kota. Tetapi, guna membawa kamu “balik” ke Indonesia, ada pula gedung-gedung bagonjong, langit-langit khas Minang, yang menjadi identitas original Sawahlunto. Gelegar di Sawahlunto sungguh dulu bergantung kepada aktivitas pertambangan batubara. Tetapi seiring waktu, kota tersebut mulai berdandan buat menjadi satu dari beberapa tujuan wisata sejarah sangat keren di Nusantara. Hotel, museum, lokasi rekreasi serta bangunan-bangunan lama di kota disusun apik sudah siap menyambut semua pelancong dari setiap penjuru dunia. Nah, saat berlibur ke Sawahlunto, kawasan mana saja yang harus didatangi? Baca rekomendasi dibawah ini:

Lubang Mbah Soero

Tujuan wajib buat dikunjungi ketika berwisata ke Sawahlunto ialah Lubang Mbah Soero. Berikut ini ialah tunnel panjang yang dipakai buat proses penggalian serta pengangkutan batubara di zaman pemerintahan Belanda. Panjangnya tunnel tersebut sebetulnya mencapai puluhan kilometer, tetapi yang digunakan guna keperluan wisata cuma 186 meter. Cuma saja, ada kisah kelam yang memayungi lokasi historis ini. Tidak cuma dibangun buat keperluan tambang batubara, tunnel tersebut ternyata pernah dipakai tuk membuang mayat-mayat warga pribumi yang dieksekusi mati.

Museum Kereta Api

Dulu, museum ini adalah stasiun kereta api yang di bangun Belanda 1918 silam. Kamu bakal merasa terhisap ke zaman lalu, lihat arsitektur bangunan serta “pernak-pernik” semacam jam antik yang sungguh bersuasana kolonial. Satu dari beberapa daya tarik mendasar museum ini ialah Mak Itam, yaitu suatu lokomotif kuno dengan tenaga batubara. Yup, mirip-mirip Hogwarts Expresslah. Lokomotif lama memiliki warna hitam itu bakal menarik gerbong lalu membawa wisatawan keliling Kota Sawahlunto. Kabar buruknya, Mak Itam saat ini sedang direhabilitasi dan bakal mengkilap kinclong pertengahan 2017 nanti. Di museum tersebut, kamu pun bisa lihat serta mendokumentasikan alat-alat perkeretapian yang umurnya sudah melebihi 100 tahun.

Hotel Ombilin

Romantis! Inilah nuansa yang terbayang ketika pertama memandang bangunan tua dengan gaya kolonial yang tetap apik terpelihara. Di bangun tahun 1918, hotel tersebut dahulu sebagai penginapan semua ahli tambang yang dihadirkan Belanda ke Sawahlunto. Sekarang, Hotel Ombilin masih berdiri cantik, sebagai icon Kota Sawahlunto yang ngetop. Sentuhan Minang pula ditautkan di bagian depan, berbentuk atap berupa bagonjong. Oh, bila kamu ingin menginap disini bisa. Biaya per malamnya kira-kira Rp 260.000–Rp 300.000 lalu sudah bisa diorder pada online travel agent (OTA).

Museum Goedang Ransoem

Ini nih, lokasi keren yang kamu gak akan dapatkan di kota lainnya. Di museum tersebut, ada beragam perlengkapan masak yang dipakai saat jaman dulu, dengan besar super! Besar periuk tempat masak didalam museum ini antara lain diamter 124 cm dengan tinggi 148 cm. Wow! Total pekerja tambang di era kolonial inilah yang menjadikan periuk-periuk raksasa diperlukan di sini. Guna memenuhi kebutuhan makan dan minum para pekerja, dulu satu dapur umum mampu memasak sampai 65 pikul beras tiap-tiap hari. Jumlah itu sebanding 3.900 kilogram nasi buat pekerja tambang batubara, family pekerja tambang, serta pasien rumah sakit. Menu kulinernya saat itu ialah nasi, ikan asin, telur asin, daging, sawi hijau dan putih, dan yang disajikan di siang lalu malam hari.

Puncak Cemara

Kota Sawahlunto pun mempunyai obyek wisata fresh menghijau. Puncak Cemara yang berada di ketinggian ini terletak di Kecamatan Barangin yang memiliki jarak 1 kilometer dari jantung Kota Sawahlunto. Lokasi ini populer menjadi lokasi guna melihat kelap-kelip Sawahlunto dari jauh-jauh, sewaktu malam hari. Sebagaimana yang bisa kamu perbuat dengan pasangan di Paris (dulunya), London, Amsterdam serta Ancol, di Puncak Cemara (pada Monumen Gembok Kesetiaan) kamu dapat pasang “kunci cinta” yang menjadi simbol hubungan bersama pasangan. Di Monumen tersebut wisatawan bisa pasang gembok, kemudian mengkikrarkan kesetiaannya di berbagai hal lalu membuang kuncinya. Ya, lucu-lucuan aja sebenarnya. Btw, gimana, kamu penasaran bukan dengan kota kecil Sawahlunto?

Leave a Reply

Your email address will not be published.