Argentina Dibantai Kolombia, Scaloni Soroti Keadaan Gelanggang

Tim nasional Argentina memulai langkah dengan jelek pada gelaran Copa America 2019. Pada pertandingan perdana paruh grup, pasukan Lionel Scaloni bertekuk lutut 0-2 dari tim nasional Kolombia. 2 goal rival dicetak oleh Roger Martinez dan Duvan Zapata pada paruh ke 2.

Setelah laga, Lionel Scaloni mengaku ketangguhan musuh. Tapi, ia jua dengan spesial menyinggung situasi gelanggang di Stadion Arena Fonte Nova yang menjadi tempat laga ke 2 kesebelasan.

“Saya menyesalkan keadaan gelanggang (yang buruk). Padahal, ini barulah pertandingan perdana (di stadion ini), ” tutur Lionel Scaloni pada konferensi pers sebagaimana dilansir Football5Star. com dari Todo Noticias.

Soal performa kesebelasannya, juru tak-tik yang melatih tim nasional Argentina setelah Piala Dunia 2018 ini menyatakan, “Kami berlaga lebih bagus, namun justru kemasukan. Kolombia merupakan kesebelasan baik. Aku menganggap laga tadi amat menarik. Pada sejumlah hal, mereka dominan, namun pada sejumlah hal lain, kami yang unggul. ”

Selain itu, Lionel Scaloni mendesak suporter La Albiceleste tidak patah gairah di dalam menyuport Lionel Messi dan kawan-kawan. Ia menyatakan, kesempatan masih terbuka sebab terdapat 2 pertandingan sisa yang bakal mereka lakoni di babak grup Copa America 2019.

“Ini merupakan laga perdana dan masih beberapa yang seharusnya dilakoni. Terdapat 2 laga yang perlu kami menangi dan saya harap saja kami melaju menuju fase selanjutnya, ” tutur juru tak-tik berusia 41 tahun ini.

Kepercayaan Lionel Scaloni bukanlah tanpa dasar. Ia menganggap tim nasional Argentina sudah memperlihatkan performa bagus dan sesuai harapannya. “Ada transformasi perilaku. Kesebelasan sedikit lebih berani memburu kemenangan dan lebih terus menguasai bola, ” tutur ia.

Barcelona kontra Liverpool: lima Kesamaan Milik Ke 2 Kesebelasan

Kamis (1/5/2019) dini hari WIB, Liga Champions bakal menyajikan duel panas yang mempertarungkan Barcelona melawan Liverpool. Mereka berdua adalah tim yang lumayan ditakuti di Eropa selama abad ke-20 dan 21 dan punya history panjang dan banyak kesamaan.

Di samping punya history panjang, Liverpool dan Barcelona jua punya banyak kemiripan. Apa saja kemiripan yang di miliki oleh ke 2 tim? Berikut ulasannya kami rangkum dari data yang kami peroleh melalui Unosport.

5 TROFI LIGA CHAMPIONS – Liverpool dan Barcelona bukan kesebelasan yang asing dengan kejayaan di ajang sepakbola Eropa. Ke 2 kesebelasan sama-sama sukses mengoleksi 5 trofi Liga Champions/ Piala Champions di dalam sejarahnya. Kesuksesan ini membikin mereka menajdi salah satu kesebelasan yang berhak memakai badge of honour tiap-tiap tampil dalam turnamen Liga Champions.

Liverpool sukses mendominasi sepakbola Eropa di jaman 1970 dan 1980an. Piala Liga Champions perdana untuk The Reds tiba di kompetisi musim 1976-77. 4 piala setelahnya mereka peroleh pada kompetisi musim 1977-1978, 1980-81, 1983-84 dan 2004-05.

Di sisi lain Barcelona sukses jadi kesebelasan yang ditakuti di jaman 2000-an. Azulgrana pertama-tama kali mencicipi piala Liga Champions pada kompetisi musim 1991-92. 4 piala setelahnya tiba di tahun 2005-06, 2008-09, 2010-11, dan 2014-15.

PUNYA AKADEMI LEVEL DUNIA – Kejayaan yang didapat oleh ke 2 kesebelasan jelas tidak lepas dari fungsi akademi yang punya standar level dunia. Di dalam hal itu, Barcelona sedikit lebih unggul dari Liverpool sebab sukses memproduksi sejumlah pemain legendaris kayak Lionel Messi, Xavi Hernandez, Carles Puyol, Andres Iniesta dan Pep Guardiola.

Di sisi lain, Liverpool jua sempat memproduksi sejumlah nama yang tidak kalah beken. Sejumlah talenta yang sukses ditelurkan oleh akademi Liverpool ialah Steven Gerrard, Michael Owen, Robbie Fowler, Steve McManaman sampai Trent Alexander-Arnold.

BERMARKAS DI KOTA YANG PUNYA CIRI KHAS TERSENDIRI – Bukanlah rahasia lagi apabila Azulgrana sering kali membanggakan identitas Catalan miliknya. Sampai-sampai pihak Barcelona jadi salah satu tim yang lumayan vokal menyuarakan kemerdekaan Catalunia dari genggaman Kerajaan Spanyol. Hal itu pernah membikin Azulgrana mendapat tekanan yang lumayan ketat saat Spanyol dipimpin oleh diktator Francisco Franco di abad ke-20.

Walau kisahnya tidak sedramatis Barcelona, Liverpool yang bermarkas di Liverpool, Merseyside jua sering kali membanggakan identitasnya. Penduduk Merseyside ataupun berjuluk dengan istilah Scouser tersohor punya gaya hidup yang cukup lain dengan warga Inggris yang lain. Mereka sampai-sampai pernah berjaya di jaman revolusi industri sebab punya pelabuhan tenar yang terus disinggahi oleh kapal-kapal tenar.

MEMILKI GAYA BERLAGA YANG ATRAKTIF – Di jaman 1990, Barcelona sukses membikin tidak sedikit pendukung berdecak kagum dengan gaya permainan indahnya. Hal itu jelas tidak lepas dari peran sang legenda, Johan Cruyff. Lelaki dari Belanda ini sukses menanamkan sebuah identitas anyar didalam diri Barcelona yang sampai sekarang terus nampak jelas di atas gelanggang.

Di sisi lain, Liverpool jua punya gaya berlaga yang cukup bagus. Berawal dari kedatangan Juergen Klopp, The Reds sekarang berlaga dengan memanfaatkan teknik Gegenpressing ataupun yang sering kali dijuluki dengan istilah Heavy Metal Football.

Ke 2 kesebelasan sama-sama punya bintang yang handal di dalam mengalirkan bola. Barcelona punya Ivan Rakitic, Arthur Melo dan Sergio Busquets. Di sisi lain, Liverpool punya Jordan Henderson, Andy Robertson, Trent Alexander-Arnold dan James Milner.

TRIO BARISAN SERANG YANG GANAS – Dimotori oleh Lionel Messi, di dalam beberapa tahun paling akhir Barcelona terus punya trio sektor serang yang amat disegani. Berawal dari trio Lionel Messi, David Villa dan Pedro lantas bertransformasi jadi Lionel Messi, Luis Suarez dan Neymar. Keberangkatan Neymar membikin Barcelona mesti sedikit merubah komposisi di sektor depannya. Sekarang, trio di sektor serang Azulgrana dihuni oleh Lionel Messi, Luis Suarez, dan Philippe Coutinho/Ousmane Dembele.

Hal senada jua di miliki oleh Liverpool. Trio mereka di sektor serang yang terdiri dari Sadio Mane, Mohamed Salah dan Roberto Firmino sukses memporak-porandakan pemain-pemain bertahan kepunyaan tim-tim Premier League. Layak dinanti performa dari ke 2 sektor serang itu pada pertandingan Barcelona melawan Liverpool yang bakal bergulir di Camp Nou pada Kamis (1/5) besok.

Tottenham Menuju Final, Pochettino Sanjung Lucas Moura

Lucas Moura menjadi pahlawan kemenangan Tottenham Hotspur via hattrick yang dia buat di semi-final leg ke 2 Liga Champions. Melawan Ajax di Johan Cruyff Arena, Kamis (9/5), The Lilywhites unggul dengan score 3-2.

Sehabis laga, pelatih Tottenham, Mauricio Pochettino, memuji setinggi langit pada bintang dari Brasil itu. Menurut pendapatnya, Lucas Moura pantas memperoleh penghargaan lebih di partai ini. Spurs berhak maju ke laga pamungkas sebab menang total goal tandang.

Lucas Moura memulai kran golnnya di menit ke-55 usai mendapat assist dari Dele Alli. 4 menit kemudian dia lagi-lagi mencatat namanya di papan score dan ditutup golnya saat laga sudah berjalan hingga menit ke-90.

“Lucas layak mendapat raihan hattrick di partai ini. Ia telah berlaga mengagumkan dan dapat memperoleh peluang main di final jelas mengesankan. Karakternya jua amat spektakuler. Seluruh bintang pantas dibilang pahlawan, namun ia merupakan pahlawan super, ” jelasnya setelah pertandingan dilansir dari situs resmi Liga Champions.

Untuk Tottenham Hotspur, ini merupakan pertama kalinya mereka sukses melaju menuju laga pamungkas Liga Champions selama sejarah tim. Sebelumnya, prestasi paling baik mereka ialah bisa sampai fase perempat-final di kompetisi musim 2010/11.

Pada pertandingan laga pamungkas 1 Juni 2019 nanti, Spurs telah dinantikan Liverpool. Laga ini menjadi laga pamungkas sesama Inggris ke 2 di Liga Champions usai Manchester United melawan Chelsea 2008 lalu. Dan menjadi yang ke 3 untuk tingkat Eropa. Sebelumnya, Spurs jua sudah melaju menuju laga pamungkas Liga Europa dan melawan Wolverhampton pada 1972.

Gonalons Ogah Kembali Menuju Roma

Pemain berposisi gelandang Sevilla, Maxime Gonalons, mengakui ogah balik lagi menuju AS Roma. Gonalons berharap dapat sedikit lebih lama membela Los Nervionenses.

Gonalons gabung bersama Roma saat Agustus 2017. Gelandang dari Prancis ini direkrut dari Olympique Lyonnais dengan biaya 5 juta €.

Apesnya, Maxime Gonalons tidak sering memperoleh peluang tampil reguler bareng I Giallorossi. Ia cuma mencatat 23 pertandingan di dalam banyak turnamen selama musim kemarin.

Gonalons pada akhirnya mengambil keputusan meninggalkan Stadion Olimpico. Sevilla menggaet bintang dari Prancis itu dengan status loan sampai penghujung kompetisi musim.

“Saya amat girang serta berharap dapat terus membela Sevilla, ” tutur Maxime Gonalons, menurut Marca.

“Saya mesti ada pada tim buat laga, namun kami bakal berbincang-bincang pada dewan tim. Agen aku akan berbincang-bincang bersama Monchi serta berharap bisa tinggal, ” jelasnya.

Bareng Los Nervionenses, nasib malang balik lagi menimpa Gonalons yang pernah absen lama karena cedera. Tapi, ia dapat balik lagi merumput semenjak Maret yang lalu.

“Saya rasa ada di dalam situasi fisik serta mentalitas yang amat bagus. Aku berupaya keras guna sembuh usai 6 bulan, ” tutur Maxime Gonalons.

Gonalons jua mengakui pernah punya kesempatan pindah ke Ramon Sanchez Pizjuan sebelum mendapat pinangan AS Roma di bursa transfer musim panas tahun 2017.

“Saya dihubungi Direktur AS Roma serta Monchi. Usai berkonsultasi sepanjang sepekan, aku mengambil keputusan guna gabung dengana Roma. Di penghujung musim bareng Lyon, koneksi aku bersama presiden amat rumit. Namun, aku amat girang sekarang, ” katanya.

Kovac Bahagia Serge Gnabry Perpanjang Kontrak di Bayern

Bayern Munich suskses mengamankan layanan bintang belianya, Serge Gnabry, dalam kesepakatan kontrak anyar. Keputusan sang pemain muda itu juga membikin manajer Niko Kovac girang.

Sebagaimana yang diketahui, Gnabry baru-baru ini memperbarui durasi kesepakatan kontraknya dengan Bayern sampai 2023 nanti. Keputusan itu tidak lepas dari penampilan bagus yang dia perlihatkan bareng tim yang dijuluki Die Roten di musim ini.

Keputusan bintang 23 tahun ini juga disambut positif oleh Kovac. Dia memandang apabila eks bintang Arsenal itu telah membuat keputusan bagus. Ia jua yakin sang pemain sayap bisa meningkatkan penampilannya.

“Serge Gnabry makin meningkat pesat serta ia telah berbuat tugas mengesankan pada musim perdananya bareng Bayern. Ia bintang yang amat baik serta kami bahagia ia ingin tinggal di sini sedikit lebih panjang lagi, ” tutur Kovac pada Bild, Jumat (8/3).

“Dia memperlihatkan diri layak main di sini. Terlebih ia selalu diberi kepercayaan membela tim nasional Jerman. Jelas itu amat bagus buat pertumbuhannya pada masa mendatang, ” lanjut eks juru tak-tik Eintracht Frankfurt itu.

Serge Gnabry digadang-gadang bakal jadi suksesor tepat Arjen Robben yang pindah pada penghujung musim ini. Malahan di dalam beberapa pertandingan musim ini ia terus diplot Kovac jadi opsi kunci pada sayap kanan.

Total bintang keturunan Pantai Gading itu telah mengoleksi 29 pertandingan bareng Die Roten musim ini. Hasilnya juga tak mengenaskan sebab ia berhasil mencatatkan 8 goal dan 5 assist.

Spalletti: Handanovic Lebih Layak Menjadi Kapten ketimbang Icardi

Samir Handanovic mengemban peran anyar menjadi leader Inter Milan kala melawan Rapid Vienna pada leg perdana 32 besar Liga Europa, Jumat (15/2) dinihari WIB. Peran perdananya itu juga mendapatkan sanjungan dari manajer Luciano Spalletti.

Sebagaimana yang diketahui, Handanovic baru-baru ini didapuk menjadi leader anyar Inter sebagai pengganti Mauro Icardi. Meski itu pengalaman barunya, Spalletti tak menyaksikan kecanggungan di dalam diri sang kiper.

Dia malah memberikan pujian kepemimpinan penjaga gawang 34 tahun ini di atas gelanggang. Malahan menurut sang manajer, dia sedikit lebih layak memimpin rekan-rekan di gelanggang ketimbang Icardi.

“Handanovic telah jadi leader pada waktu silam malah kala ada Mauro Icardi di arena pertandingan. Kita semua mengenalnya. Dia amat seimbang serta professional. Samir merupakan seseorang yang paham bagaimana mentransmisikan nilai-nilai yang bagus pada kawan satu tim, ” tutur Spalletti pada Sky Sport Italia, Jumat (15/2).

“Dia amat dihargai di ruang ganti. Karakteristiknya pun di miliki Icardi dalam beberapa hal. Dari segi karakter, Handanovic memiliki sedikit lebih banyak jam terbang serta sedikit lebih layak menjadi leader ketimbang Icardi, ” dia menuturkan.

Ceballos Ungkap Alasan Isco Tidak Pernah Bermain

Pemain berposisi gelandang Real Madrid, Dani Ceballos, angkat suara tentang absennya Isco di arena pertandingan. Menurut Ceballos, sang bintang tidak ada pada situasi paling baik usai operasi.

“Dia merupakan penggawa yang baru pulih dari cedera besar serta menjalani operasi,” tutur Ceballos pada El Chiringuito.

Semenjak Santiago Solari jadi suksesor Julen Lopetegui, Isco tidak kelihatan di rumput hijau. Padahal, Los Blancos telah melewati 4 pertandingan.

Menurut Ceballos, sang penggawa baru saja melakukan operasi usus buntu akut. Namun, dia telah kembali latihan, walau tidak ada pada kualitas paling baik.

Ceballos pun mengatakan jika Solari tidak bersedia memaksakan Isco bermain dan mengambil risiko.

“Dengan Lopetegui, ia bertanding 2 laga beruntun. Bersama Solari, ia menyatakan Isco tengah tidak di dalam bentuk terbaik, namun ia latihan 100 persen. Solari paham krusialnya mengelola ruang ganti serta punya filosofi nilai-nilai Real Madrid,” tutur Ceballos.

Total, sang pemain berposisi gelandang sudah memperkuat Madrid di dalam 12 laga pada semua ajang musim ini. Dia pun menyumbang 2 goal serta 2 assist.

Madrid sendiri sekarang ada pada urutan ke 6 klasemen La Liga. Isco cs tengah terpaut 4 angka melalui Barcelona di singgasana.

Di pertandingan selanjutnya Los Blancos bakal melawan Eibar. Duel ini diselenggarakan pada tanggal 24 November nanti.

Piala Asia U-19 2018 – Cinta untuk Tim nasional U-19 Indonesia Diutarakan La Grande

Wadah pendukung tim nasional Indonesia, La Grande Indonesia (LGI), ikut memeriahkan Piala Asia U-19. Mereka pun terus ada pada belakang perjuangan tim nasional U-19 Indonesia.

La Grande Indonesia (LGI) tersohor memiliki loyalitas tanpa batas di dalam menyuport tim Garuda, termasuk tim nasional U-19 Indonesia di Piala Asia U-19.

Diberitakan BolaSport. com melalui akun Twitter punya LGI, di samping menyanyi saja, wadah pendukung tim nasional Indonesia ini pun membuat suatu koreografi.

Simbol cinta, jadi koreografi yang dibangun oleh LGI di dalam menyuport tim nasional U-19 Indonesia.

Bukanlah sekedar simbol cinta, namun adalah kode apabila LGI sangat menyayangi Indonesia.

Koreografi itu dibangun bersama 2 warna, yaitu merah serta putih

Penyusunan koreografi pun dilakukan dengan warna merah ada di atas serta putih dibawah, laiknya bendera Indonesia, Merah Putih.

Laga itu berkesudahan dengan kekalahan 5-6 Indonesia dari Qatar.

Presiden AS Roma Serang Balik Nainggolan

Presiden AS Roma, James Pallotta, memberikan tanggapan kritikan eks anak asuhnya, Radja Nainggolan, kepada tim itu serta ia.

Diberitakan BolaSport. com melalui Sepakbola Italia, Nainggolan mengatakan jika AS Roma tak menghormatinya kala tengah membela tim itu.

“Saya menyesal bersama dua hal melalui AS Roma, ” tutur Nainggolan. “Mereka berbuat sesuatu di belakang aku serta bernegosiasi bersama tim lainnya tanpa sepengetahuan aku, ” katanya melanjutkan.

Itu yang menjadikannya lantas memutuskan gabung Inter Milan di pertama kampanye musim. Nainggolan juga mengatakan bahwa James Pallotta tak memiliki perhatian kepada AS Roma. “Presiden Inter Milan terus pada sini, sedangkan James Pallotta cuma bertamu 1 tahun satu kali, ” tutur Nainggolan.

“Menurut aku, ia seharusnya terus tersedia guna menjelaskan apabila tersedia transformasi, ” tutur bintang dari Belgia itu.

James Pallotta pun menolak seluruh perkataan Nainggolan itu.

“Saya menyesal mendengar ucapan Radja. Ia menyatakan aku tak sudah terdapat pada pusat pelatihan, padahal aku tersedia tiap-tiap hari, ” tutur Pallotta.

Pallotta juga menegaskan jika ia tengah memandang Nainggolan menjadi bintang paling baik yang sudah ia temui. “Saya amat perduli Radja. Ia satu dari sekian banyak olahragawan terpandai yang sudah aku temui, ” tutur Pallotta meneruskan.

Legenda Jerman Sebut Timnas Jerman Butuh Pelatih Baru

Nasib manajer tim nasional Jerman, Joachim Loew, ada pada ujung tanduk. Beberapa pihak menyarankan Loew sebaiknya sampai di sini saja menukangi Die Nationalmanncshaft usai dikalahkan Belanda 0-3.

Tim nasional Jerman kebobolan 3 skor oleh Virgil van Dijk, Memphis Depay, serta Gini Wijnaldum di partai UEFA Nations League Liga A Grup satu pada Johan Cruijff Arena, Amsterdam, Sabtu (13/10/2018).

Armada Joachim Loew pantas termasuk di dalam masa krisis selama 2018 karena hal itulah hasil negatif ke 5 mereka di dalam kalender tahun ini.

Pencapaian itu memperburuk situasi internal tim nasional Jerman usai tersungkur pada penyisihan grup Piala Dunia 2018.

Via kompetisi akbar ini Manuel Neuer dan kawan-kawan mencatat catatan paling buruk mereka pada Piala Dunia semenjak 1938.

Kredibilitas Joachim Loew diragukan kembali buat mengatur tim nasional Jerman, yang telah diasuhnya semenjak 2006.

Oleh banyak pihak, ramuan Loew disebut telah karatan seiring masa terlampau lama membidani tim nasional.

Di banyak peluang, Loew pun disebut-sebut kehilangan sentuhan emas yang menghantarkan Jerman menjadi jawara Piala Dunia 2014.

Strategi serta pengambilan keputusannya di dalam laga tampak seperti telah usang serta bisa dibaca rival.

Belum lagi kabar burung lambatnya regenerasi serta favoritisme kepada beberapa pemain yang tengah mendapatkan masa negatif pada klub secara fisik serta mentalitas.

Wanti-wanti itu telah diungkapkan legenda tim nasional Jerman, Michael Ballack, sebelum duel melawan Belanda.

“Seperti orang-orang lain, aku kaget Joachim Loew dipertahankan. Ia kerja untuk waktu lama bagi kesebelasan serta terkadang beberapa hal tak berlangsungdengan bagus lagi saat Kamu terlampau lama bareng satu kesebelasan, ” tutur Ballack.

“Piala Dunia 2018 benar-benar penyesalan yang amat besar serta tentu terdapat sebab untuk hal tersebut. Kamu betul-betul seharusnya menganalisisnya serta tak mengerjakannya usai mengambil keputusan mempertahankan manajer, ” jelasnya, dilansir BolaSport. com melalui Deutsche Welle.

Komentar mantan pemain berposisi gelandang tangguh ini disangkakan juga pada Federasi Sepakbola Jerman (DFB), yang justru melanjutkan mandat Loew alih-alih memecatnya pasca-Piala Dunia 2018.

Kolumnis Deutsche Welle, Michael Da Silva, memenuhi opini Ballack jika Joachim Loew sebaiknya menghentikan masa bakti sampai di sini sebab perpisahan sang arsitek harusnya telah seharusnya dikerjakan dari dulu.

“Selama 12 musim waktu kepelatihan pada Jerman, Loew mengerjakan tugas spektakuler dengan merenegerasi kesebelasan dari musim ke musim, ” tulisnya.

“Keahlian yang dia tunjukkan saat melakukan evolusi tim mencapai puncak di dalam dini hari di Rio de Janeiro (final Piala Dunia 2014). Inilah periode ketika Loew harusnya angkat kaki, ” tambahnya.